Assalamu ‘alaikum wr. wb,
Saya ingin meletakkan hal ini secara objektif, agar kita tidak fanatik dan taqlid kepada siapapun juga. Pertama, kalau kita semuanya mau jujur bahwa perintah menjadi SALAFY itu tidak ada yang jelas, semuanya hanya berupa indikasi dan penafsiran yang sifatnya ijtihadiyah (atau maaf seperti dipaksakan).
Contohnya, At-Taubah ayat 100, itu bukan perintah untuk menjadi SALAFY tapi perintah untuk mengikuti Rasulullah dan Sahabat (muhajirin dan anshor). Kalau hal itu perintah menjadi SALAFY tentunya ayatnya akan dinyatakan secara tegas dan jelas semisal “Isyhaduu biannaa muslimuun” (Saksikanlah kami adalah muslim).
Tapi kita kan nggak pernah menemukan perintah “SAKSIKANLAH BAHWA KAMI SALAFY”.
Atau perintah “ITTAQULLAHA HAQQA TUQAATIHI” (Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa). Adakah perintah yang setegas itu untuk untuk bermanhaj SALAFY, misalnya berbunyi “BERTAKWALAH KEPADA ALLAH dan BERMANHAJ SALAFLAH KALIAN”.
Lalu dilanjutkan WA LAA TAMUUTUNNA ILLAA WA ANTUM MUSLIMUUN (perintah ini kan sangat tegas jelas tidak perlu penafsiran lagi yaitu bahwa Allah menyuruh kita menjadi MUSLIM).
Belum lagi banyak sekali akhir ayat yang secara tegas menyatakan WA NAHNU LAHU MUSLIMUN (Dan kami adalah orang-orang Islam).
Adakah dalam Alqur’an yang menyatakan WA NAHNU LAHU SALAFIYUUN….? Atau dalam HADITS. Inilah yang saya maksud sebaiknya kita kembali kepada perintah yang JELAS dan TEGAS.
Kedua, surat Ali Imran ayat 110, ini adalah perintah untuk beramar ma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah SWT. Bukan perintah untuk bermanhaj SALAF.
Ketiga, berkaitan dengan hadits-hadits yang mengindikasikan SALAF, contohnya “Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka…”
Hadits ini khabar atau perintah. Kalau kabar maka hadits ini adalah pujian kepada generasi terbaik. Hadits ini jelas-jelas berupa kabar. Sebab jika kita kaitkan dengan ayat lainnya maka yang paling mulia adalah yang paling taqwa (INNA AKRAMAKUM ‘INDALLAHI ATQAAKUM). Mereka tidak dibatasi ZAMAN dan WAKTU.
Contohnya IMAM MAHDI meskipun lahir di akhir zaman. Beliau adalah orang yang sangat bertaqwa.
Kalau setiap khabar dijadikan dalil untuk membuat sebuah MANHAJ. Maka kita akan temukan banyak sekali MANHAJ. (Ini tidak masalah, selama hal ini tidak dipaksakan kepada orang lain). Atau dijadikan tanda/simbol merekalah satu-satunya kelompok yang selamat/yang ditolong (FIRQATUN NAJIYAH/THAIFAH MANSHURAH).
Contohnya dalam Alqur’an banyak sekali kita temukan khabar tentang para Nabi dan Rasul. Lalu kemudian kita buat namanya MANHAJ RUSULI (Pengikut 25 Nabi dan Rasul).
Dalam Alqur’an dan hadits banyak kita temukan pujian terhadap SAHABAT, lalu kita buat MANHAJ ASHABI. Atau banyak juga pujian terhadap JIBRIL lalu kita bentuk MANHAJ JIBRILI dst.
Keempat, pernyataan Syaikh Albani Rahimahullah, kenapa kita butuh simbol ini, alasannya karena banyaknya aliran sesat pada zaman ini? (Silahkan baca buku Biografi Syaikh Albani)
Pertanyaannya adalah apakah pada zaman FITNATUL KUBRA (Ali RA VS Muawiyah RA) tidak banyak aliran sesat? Lalu masa-masa setelahnya apakah juga tidak banyak aliran sesat?
Lalu kenapa para IMAM dan SALAFUS SHALIH pada saat itu tidak memproklamirkan MANHAJ SALAFY. Justru yang disepakati adalah AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH (ini menjadi sumber hukum karena IJMA’/kesepakatan). Karena kesepakatan adalah (salah satu) sumber hukum Islam. Sedangkan MANHAJ SALAF belum pernah menjadi IJMA’.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, BAGAIMANA JIKA KEMUDIAN ORANG-ORANG MENGAKU ber-MANHAJ SALAF itu kemudian rusak lagi dan berpecah belah, terbukti saat ini SALAFY telah terbelah menjadi berbagai kelompok ADA SALAFY JIHADI, SALAFY ILMI, SALAFY HARAKI, SALAFY YAMANI, Ada SALAFY-nya SYAIKH ABDUR RAHMAN ABDUL KHALIQ, SALAFY-nya LUQMAN BAABDUH, SALAFY-nya USAMAH, SALAFY SYAIKH SAFAR, SALAFY-nya SYAIKH ALBANI, SALAFY-nya SYAIKH AL QARNI, SALAFY-nya SYAIKh MUQBIL, SALAFY-nya SYAIKH RABI’ Rahimahumullah dll.
Apakah kemudian kita membuat SIMBOL Baru lagi? Misalnya QADIMI?
Sekali lagi mari kita kembali kepada penisbatan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya yaitu menjadi MUSLIM/MUKMIN/MUTTAQIIN.
Mohon maaf, bila ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
DIarsipkan di bawah: jihad, mutiara amaly, tarbiyah, tauhid

Anda ini saya kira sudah oner dalam memaknai istilah ini.
tulisan ini disertai dengan dalil, bila ingin berargumen sertakanlah pula dalil agar pembaca semua bisa membedakan antara pendapat pribadi dan hujjah.
Barokallohu Fiikum…
Anda bilang,
“sekali lagi mari kita kembali kepada penisbatan yang dicintai allah dan rasul-nya yaitu menjadi muslim/mukmin/muttaqiin.”
Rad :
Saya lihat anda ini sudah tidak bisa membedakan apa itu berbeda, perlu anda ketahui, kami ini disifatkan dengan berbeda, makanya kami sangat berbeda dengan anda (wahai orang yang sedang bingung dan ling-lung), tanpa istilah ekslusive “salafy” identitas kami sebagai muslim tidak akan cukup. Silahkan saja kalau anda menggunakan istilah “saya seorang muslim/mukmin/muttaqiin, kami tidak melarang, toh itu hak anda, karena anda memang sangat merasa seorang muslim/mukmin/muttaqiin, tapi tidak bagi kami, salafy tetap harga mati?! Satu hal yang harus anda tahu adalah kenapa kami tetap ngotot menggunakan istilah ini adalah karena adanya “ruang dan waktu yang berbeda”, tanpa adanya “ruang dan waktu yang berbeda” ini maka tiadalah guna istilah salafy ini kami sebut, dan tidak mungkin pula istilah ini bisa muncul. Ruang dan waktu itu adalah jarak antara kami dengan rasulullah saw. Jarak inilah yang mengharuskan istilah salafy ini muncul,
Saya berikan contoh sederhana, semoga dapat dipahami: apakah rasulullah pernah mengatakan istilah salaf pada abu bakar, umar dan beberapa sahabat lainnya masa kelahirannya hampir sama dengan rasulullah. Anda lacak dimanapun juga, nisacaya tidak akan anda temukan, namun rasulullah hanya mengatakan kepada putrinya fathimah, “sebaik-baik salaf-mu adalah aku, rasulullah mengutarakan hal itu karena adanya jarak antara ia dan putrinya” rasulullah lebih dulu lahir dari putrinya, maka dia adalah salaf bagi putinya adapun putrinya maka dia adalah salafiyah bagi rasulullah. Begitupun dengan kami, salafy bagi rasulullah.
Adapun yang anda bilang ,
“salafy telah terbelah menjadi berbagai kelompok ada salafy jihadi, salafy ilmi, salafy haraki, salafy yamani, ada salafy-nya syaikh abdur rahman abdul khaliq, salafy-nya luqman baabduh, salafy-nya usamah, salafy syaikh safar, salafy-nya syaikh albani, salafy-nya syaikh al qarni, salafy-nya syaikh muqbil, salafy-nya syaikh rabi’ rahimahumullah dll.”
Rad :
Buat kami (salafy): omongan anda adalah celoteh orang ling-lung yang banyak memiliki syak (keragu-raguan dalam hatinya), dari sini saja dapat ditebak betapa anda itu tidak memahami istilah salafy, bila dikatakan salafy telah terbelah menjadi berbagai kelompok, seperti yang adan sebutkan diatas, maka saya katakan anda ini salah alamat, salafy yang anda maksudkan itu buat kami bukanlah salafy dalam artian yang sebenarnya, melainkan hanya kelompok pengajian saja. Karena buat kami itu lucu, dan tidak bisa diterima, baik secara logika bahasanya maupun substansinya. Jadi, sekali lagi, sangat lucu sekali bila ada orang seperti anda ini yang tidak tau salafy, bicara salafy. Bila dikatakan salafy adalah sesuatu yang muhdats (baru), maka kami katakan yah istilah itu memang baru bagi adan yang baru sadar, dan tidak bagi kami yang lebih dulu sadar.
Wahai orang yang sedang bingung hatinya, dan yang tidak bisa menggunakan dan akal dan panca inderanya dengan baik.
Salafy itu tidak mengikuti apa kata: al-albani, muqbil, rabi’ usamah, yazid, luqman, tidak pula terdaftar sebagai member: jihadi, haraky, tidak pula sebagai sifat bangsa: yamani, saudi, tidak pula sebagai fans: abdur rahman abdul khaliq, safar, dll.
Kami ini hanya mengikuti Rasulullah saw. dan itu harga mati buat kami, karena beliaulah salaf kami. Allahu yahdik
Wasalam
Aboumeriya as-salafy
tampaknya anda benar-benar sudah terjebak parah dalam kukungan hizby berbaju salafy, tulisan anda diatas, wahai Aboumeriya as-salafy, sungguh hanyalah sebuah ledakan hawa nafsu yang bersandarkan pada permusuhan hingga anda melupakan “dalil” dalam berargumen, dan yang kami lihat hanyalah ke-jahil-an anda.
jangan ngomong doang, kalo anda bisa bantah, bantah saja. tidak usah mengatakan jahil tapi tidak isinya, kalau sekedar mengatakan jahil tapi tidak bisa mengklarifikasi dan mengklasifikasi pendapat seseorang yang anda anggap salah saya kira orang gila pun bisa melakukan hal tersebut, kalau anda memang meiliki hujjah dan dalil. keluarkan, bantah komentar ana diatas. bukan dibungkam dengan kata, jahil yang tidak ada isinya sama sekali….
ana tunggu
insya Allah hal ini akan dibahas pada artikel berikutnya.
wis kono do padu,kenapa gak bisa mengkedepankan persamaan dibanding perbedaan? pusing jadinya umat yen mung kon nonton orang yang dianggap alim tapi saling serang satu sama lain. Allahummaghfirlana.